Jumat, 27 November 2015



Nama               : Aditya Mahardianto
Nim                 : 1471
510469
Nama Dosen   : Dudi Iskandar, S.Ag., M.I.Kom
Fakultas           : Ilmu Komunikasi
Mata Kuliah    : Komunikasi Massa
UNIVERSITAS BUDI LUHUR



RANGKUMAN KERUNTUHAN JURNALISME

Buku KERUNTUHAN JURNALISME menceritakan bahwa jurnalis saat ini sudah melalui kekacauan dalam segi kode etik. Tengoklah pertarungan media pada pemilihan umu legislatif dan pemilihan presiden 2014. Mereka terbelah secara tajam dan sarkastis, bahkan mengar ke konflik. Tidak ada lagi ada penghargaan terhadap ‘profesi agung dan mulia,’  bernama wartawan; etika jurnalistik hanya bahasa di langit kode etik di buang ke tong sampah.

Apa lagi jurnalistik saat ini sering menerima suap unutk membayar berita supaya tidak ditayangkan di dalam media. Hukum kode etik jurnalistik mengharamkan cara suap atau membayar berita agar kejelekan dan kejahatan para tokoh yang terkait tidak di ketahui oleh masyarakat kita. Seharusnya para jurnalistik tau bahwa suap atau membayar berita itu adalah tindakan yang sangat tidak benar dan seharusnya para jurnalisik huarus memberikan berita yang jujur dan apa adanya. Apa lagi ada budaya copy paste, dalam konteks ini budaya copy paste sangatlah sering di jumpai dalam dunia jurnalis. Budaya ini wartawan sangatlah malas untuk meliput berita. Maka dari itu mereka mengcopy paste karya wartawan lain agar supaya wartawan yang copy paste di anggap meliput suatu berita. Padahal cara itu dianggap cara yang salah dalam dunia jurnalistik tetapi mereka malah mehiraukan saja dan hingga saat inipun masih di gunakan oleh para wartawan kita. Maka dari itu Bapak Dudi Iskandar ingin memberitahu kepada masyarakat bahwa di Indonesia mengalami kekacauan dalam dunia jurnalistik.
Yaitu pembahasanya dalam buku ini adalah :
                                        
BAB 1:
Pada Bab 1 buku ini membahas tentang indikator runtuhnya jurnalisme di Indonesia yaitu tentang bagaimana berbagai pihak media mengeluarkan pemberitaan yang tidak berimbang dan hanya bertumpu pada satu pihak yang dimulai sejak pilpres 2014. Juga membahas tentang wartawan yang mendapatkan amplop besar dari para pelaku politik. Budaya copy paste turut dibahas mengenai wartawan yang sepakat membuat berita yang merupakan karya wartawan lain dengan mengubah isi dari berita tersebut. Jurnalisme pembuat heboh yang membuat keheboban berita pada jatuhnya rezim Soeharto. Jurnalisme tanpa konfirmasi yang membahas tentang berita palsu tanpa ada keterkaitan atau sepengetahuan dari pihak yang diberitakan. Serta yang terakhir membahas tentang pihak media yang membuat berita tanpa menggunakan etika Jurnalistik.

BAB 2:
Pada bab ini membahas tentang postmodernisme yang berisikan tentang gejala postmodernisme, ajaran pokok, karakteristik, tokoh. Cultural studies yang berisikan tentang kegalauan sematik, sejarah, definisi, asumsi dasar, paradigma, tokoh kunci.

BAB 3:
Pada bab ini membahas tentang jurnalisme dan citizen journalism yang berisikan kooptasi media. Jurnalisme dan ideologi. Jurnalisme dan Konvergensi Media yang juga berisikan tentang jurnalistik interpretatif. Jurnalisme dan Krisis Berita. Jurnalisme dan Media Baru yang juga berisikan tentang krisis jurnalistik, waktu dan jurnalisme, internet dan jurnalisme. Jurnalisme dan Pencarian Core Mining. Jurnalisme dan Pertukaran Makna. Jurnalisme Interpretatif yang juga berisikan tentang contoh berita dari berbagai media dan melencengnya profesi wartawan sebagai pemuat berita bagi masyarakat. Jurnalisme, Agama dan Pertanggungjawaban.


RESENSI BUKU KERUNTUHAN JURNALISME

Identitas Buku.
Judul Buku                  : Keruntuhan Jurnalisme
Penerbit                       : Lentera Ilmu Cendekia
Penulis                         : Dudi Sabil Iskandar
Jumlah Halaman          : 152 Halaman
Jumlah Bab                 : 3 Bab
Tahun Terbit                : 2015
TENTANG PENULIS
Dudi Sabil Iskandar, Lahir di Bandung pada 5 Maret 1972. Menyelesaikan kuliahnya di jurusan Dakwah Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) pada tahun 1996. Melanjutkan pendidikan ke tingkat magister di Pascasarjana Universitas Mercu Buana pada tahun 2012, dengan spesialis Political Communication. Sejak Maret 2012, menjadi pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas Budi Luhur, serta di beberapa universitas lainnya.     
Selama 12 tahun menjadi wartawan di berbagai media cetak dan online. Puluhan tulisan dimuat di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Republika, Seputar Indonesia, Sinar Harapan Pikiran Rakyat, dan Majalah Panji Masyarakat, serta di beberapa jurnal ilmiah komunikasi.
Delapan buah buku yang telah ditulis dan dieditnya. Antara lain; Rekonstruksi Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI bersama Andito (1998), Keajaiban di Tanah Suci Saat Haji dan Umrah (2004), Haji ; Antara Aroma Bisnis dan Tarikan Spiritual (Editor) (2005), Menggapai Demokrasi; Jejak Politik HR Syaukani bersama Hery Susanto dan Ali Amran Hasibuan (2006), Perjalanan Sebuah Bangsa; Catatan 80 Tokoh Nasional (2008) bersama Dwi Agus Susilo dan Masad Masrur (2013), dan Jejak Prestasi Olahraga Indonesia; SEA Games, Asean Games, dan Olimpiade 1951-2011 (2012), KNPI; Sebuah Analisis tentang Sebuah Konflik, Media, dan Paradigma (bersama Dwi Agus Susilo dan Masad Masruru, 2013), serta Dari Bangku Sekolah ke Medan Perang (bersama Israr Iskandar, 2013). Dan buku ini adalah buku pertamanya yang merupakan karya intelektual yang ditulisnya sendiri.

TUJUAN BUKU
Buku Keruntuhan Jurnalisme ini di tulis oleh Dudi Iskandar, yang menggeluti bidang jurnalis sebagai wartan selama ±12tahun lamanya. Pada januari 2015 buku ini telah diliris. buku ini bertujuan untuk mengetahui kepada pembaca tentang sepenggal kekawatiran,seonggok ketakutan,segumpal kekecewaan terhadap dunia jurnalisme yang didalam isi buku tersebut terdapat definisi serta sisi lain terjadi masalah Jurnalisme.

ISI BUKU
Buku Keruntuhan Jurnalisme di tululis berdasarkan pemikiran kritis  oleh Dudi Iskandar tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada dunia jurnalisme kita saat ini. Indikator keruntuhan jurnalisme, yaitu mengungkap pelanggaran para pers dan media di Indonesia yang membuat berita hanya berdasarkan kepentingan dan jauh dari kode etik jurnalisme. Dalam buku ini juga dibahas tentang penyebab keruntuhan jurnalisme yang disebabkan oleh postmodernisme dan cultural studies. Dan pada bab terakhir buku ini menjelaskan tentang kemunculan jurnalisme baru yang seiring perkembangan zaman akan ada inovasi-inovasi baru yang banyak bermunculan.

KEKURANGAN BUKU
      1. Cover Buku ini kurang menarik, karna agak mengerikan
      2. Beberapa kata yang ada pada buku sulit di pahami
      3. Bahasa pada buku ini kurang dipahami karena tidak semua pembaca mengerti 
          dari arti kata-katanya.
      4. Masih ada pembahasan yang tidak perlu di jelaskan

KELEBIHAN BUKU
      1. Memberitahu masyarakat tentang apa itu Jurnalisme
      2. Menginformasikan bagaimana kedepan  tentang ilmu Jurnalisme
      3. Buku ini menerangkan beberapa kasus-kasus yang terjadi di Indonesia
      4. Judul buku sangat menarik, sehingga membuat orang penasaran untuk membacanya

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan dalam buku bahwa inilah dunia jurnalisme, media yang ada di Indonesia saat ini membuat prihatin banyak orang. Mengetahui bahwa sikap transparan pada jurnalisme sangat penting dan harus dilakukan oleh jurnalis-jurnalis yang akan datang agar kebenaran informasi di Indonesia bisa terlaksana dengan baik dan benar